Friday, 31 May 2013

KOMPLEKSOMETRI


BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Salah satu metode titrimetri adalah titrasi pembentukan kompleks yang juga dikenal sebagai kompleksometri. Metode ini memungkinkan penentuan analisis pengukuran untuk sejumlah kation bervalensi banyak dalam larutan air. Metode ini berdasarkan penentuan khelat organik yang larut dalam air dan praktis tidak terdisosiasi.
Dewasa ini pereaksi yang paling sering digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah ligan bergigi banyak yaitu asam etilen diamin tetra asetat (EDTA). Krena senyawa ini sukar larut dalam air maka garam dinatriumnya lebih mudah larut digunakan untuk membuat larutan pentiter.
Keuntungan dari metode kompleksometri adalah waktu pengerjaannya lebih sederhana dibandingkan gravimetri dan spektrometer. Sedangkan kerugiannya adalah penentuan titik akhir susah ditentukan, karena sangat dipengaruhi oleh pH dan bahan yang digunakan cukup banyak dibandingkan dengan metode lain yaitu larutan bak, indikator, larutan dapar, dan larutan asam atau basa.
Titrasi kompleksometri ini digunakan untuk penetapan kation bervalensi banyak dalam air. Di dalam dunia farmasi, metode ini banyak digunakan dalam penetapan kadar suatu senyawa obat yang mengandung ion logam Misalnya penentuan kadar MgSO4 yang digunakan sebagai laksativum atau ZnO yang digunakan sebagai antiseptik.

I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara penentuan kadar suatu zat dengan menggunakan metode analisis volumetri.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Menentukan kadar zat CaCl2 dengan menggunakan metode kompleksometri

I.3 Prinsip Percobaan
Penentuan kadar CaCl2 dengan menggunakan metode kompleksometri dengan zat titrasi atau titran digunakan komplekson EDTA, menggunakan indikator Biru hidroksi Naftol dengan titik akhir titrasi dicapai pada saat larutan berubah dari warna merah jambu menjadi warna biru tua.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
Analisa kimia farmasi kuantitatif untuk zat-zat anorganik yang mengandung ion-ion logam seperti aluminium, bismuth, kalsium, magnesium dan zink dengan cara gravimetri memakan waktu yang lama, karena prosedurnya meliputi pengendapan, penyaringan, pencucian dan pengeringan atau pemijaran sampai bobot tetap(1).
Sekarang ditemukan prosedur titrimetri yang baru untuk penentuan ion-ion logam ini dengan pereaksi etilen diamion tetra asetat dinatrium, yang umumnya disebut EDTA dengan menggunakan indikator terhadap ion logam yang mempunyai sifat seperti halnya indikator pH pada titrasi asam basa, dengan dasar pembentukan kompleks khelat yang digolongkan dalam golongan komplekson(1).
Dalam penentuan ion-ion logam secara titrasi kompleksometri umumnya digunakan komplekson III (EDTA) sebagai zat pembentuk kompleks khelat, dimana EDTA bereaksi dengan ion logam yang polivalent seperti Al+++ , Bi+++ , Ca++ , Cu++ membentuk senyawa atau kompleks khelat yang stabil dan larut dalam air(1).
Dalam perkembangan analisa kimia kompleks, kompleksometri pengkhelat yang paling umum dan menonjol dalam penggunaannya adalah EDTA, faktor-faktor yang membuat EDTA sebagai titrimetri (3) :
  • Dengan ion logam membentuk kompleks 1:1 sehingga reaksi hanya berlangsung satu tahap.
  • Konstan kestabilan khelatnya umumnya besar sekali sehingga reaksinya sempurna (kecuali logam alkali).
  • Banyak ion logam yang bereaksi cepat.
Pemberian khelat adalah anion organik yang pada jarak tertentu mempunyai beberapa gugus dengan fungsi dasar elektron atau senyawa organik dengan dua atau lebih gugus donor elektron pada jarak tertentu. Setiap molekul akan membentuk satu atau lebih cincin dengan ion logam bervalensi dua atau lebih. Kompleks yang terjadi dengan cara ini disebut khelat karena berbentuk gunting(2).
Indikator dalam titrasi kompleksometri tidak berubah karena perubahan pH, tidak juga karena daya oksidasi titrat berubah, akan tetapi karena perubahan pM (M adalah khelat logam ) (3).
Syarat-syarat indikator logam, yaitu (4) :
  • Reaksi warnanya harus sensitif, dengan kepekaan yang besarterhadap logam.
  • Reaksi warnanya harus spesifik.
  • Perbedaan warna dari indikator bebas dengan indikator kompleks harus mempunyai kestabilan yang efektif dimana pH titrasi tidak boleh tidak teroksidasi dan tereduksi.
  • Kestabilan kompleks logam indikator harus cukup.
  • Reaksi pengusiran indikator oleh EDTA harus belangsung cepat
Dan berdasarkan perubahan warna dari indikator logam ini dapat kita beda-bedakan (1) :
  1. Cara titrasi langsung, pada titrasi ini larutan ion logam ditambah larutan dapar dan indikator, kemudian langsung dititrasi dengan komplekson III. Titrasi ini digunakan untuk penentuan ion-ion logam kalium, magnesium dan zink.
  2. Cara titrasi tidak langsung, digunakan untuk menentukan senyawa aluminium dan bismth, karena pada titrasi secara langsung terjadi kesalahan yang disebabkan karena pengendapan dari logam sebagai hidroksida dalam suasana alkali.
II.2 Uraian Bahan
  1. Aquades (5)
Nama resmi : Aqua destilata
Nama lain : Aquades
Pemerian : Cairan jenuh, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
RM/BM : H20/18,02
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pelarut
  1. Kalsium klorida (6)
    Nama resmi
    :
    Calcii chloridum
    Nama lain
    :
    Kalsium klorida
    RM/ BM
    :
    CaCl2/ 110,99
    Pemerian
    :
    Granul atau serpihan, putih keras, tidak berbau
    Kelarutan
    :
    Mudah larut dalam air, dalam etanol dan dalam etanol menidih; sangat mudah larut dalam air panas.
    Penyimpanan
    :
    Dalam wadah tertutup rapat
    Kegunaan
    :
    Sebagai sampel
    Persyaratan kadar
    :
    Mengandung tidak kurang 99,0%dan tidak lebih dari 107,0 % CaCl2.2H2O
  2. Asam klorida (6)
    Nama resmi
    :
    Acidum Hydochloridum
    Nama lain
    :
    Asam klorida
    RM/BM
    :
    H­Cl/ 36,46
    Pemerian
    :
    Cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang
    Kelarutan
    :
    Larut dengan 2 bagian molekul air, asap hilang
    Penyimpanan
    :
    Dalam wadah tertutup rapat
    Kegunaan
    :
    Sebagai pelarut


  3. Dinatrium adetat (6)
Nama resmi
:
Dinatrii adetat
Nama lain
:
Dinatrium adetat
RM/BM
:
C10H14N2Na­2O82.H2O/ 46,07
Pemerian
:
Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau
Kelarutan
:
Larut dalam air
Penyimpanan
:
Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan
:
Sebagai titran

  1. Biru Hidroksi naftol (5)
Nama resmi
:
Biru Hidroksi Naftol
RM/BM
:
C20H14N2O11S3 / 554,52
Pemerian
:
Hablur, biru kecil
Kelarutan
:
Mudah larut dalam air
Penyimpanan
:
Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan
:
Sebagai indikator

II.3 Prosedur Kerja (1)
Timbang seksama sejumlah contoh, larutkan dalam 25 ml air, untuk zat yang sukar larut dapat ditambahkan sedikit asam klorida encer. Encerkan dengan air secukupnya hingga 50 ml, tambahkan 20 ml larutan NaOH P titrasi dengan dinatrium EDTA 0,05 M menggunakan indikator campuran asam kalken karbonat P hingga warna merah muda berubah menjadi biru
Timbang seksama lebih kurang 1 g, masukkan ke dalam gelas piala 250 ml, larutkan dalam campuran 100 ml air dan 5 ml asam klorida 3 N. Pindahkan larutan ke dalam labu ukur 250-ml encerkan dengan air sampai tanda. Dipipet 50 ml larutan ke dalam erlenmeyer, tambahkan 100 ml air, 15 ml natrium hidroksida 1 N dan 300 mg indikator biru hidroksi naftol LP. Titrasi dengan dinatrium edetat 0,05 M sampai titik akhir berwarna biru tua (6).
1 ml dinatrium edetat 0,05 M setara dengan 7,351 mg CaCl2 2H2O

BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat yang digunakan :
  • Buret 50 ml
  • Erlenmeyer 250 ml
  • Gelas kimia 100 ml
  • Gelas ukur 10 ml
  • Pipet skala
  • Pipet tetes
  • Pipet volume 10 ml
  • Sendok tanduk
  • Statif dan klem
  • Stirer Kertas laminating
  • Kain putih
  • Timbangan analitik
III.1.2 Bahan yang digunakan :
  • Aquadest
  • Aluminium foil
  • EBT (Erichrome Black)
  • Kalsium klorida (CaCl2)
  • Dinatrium etilen diamin tetra asetat (Na-EDTA) 0,05 M
  • Kertas timbang

III.2 Cara Kerja
  1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan.
  2. Dipipet seksama 10 ml larutan CaCl2 , kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu ditutup dengan aluminium foil.
  3. Ditambahkan HCl pekat kedalam erlenmeyer yang telah besisi CaCl2 .
  4. Dibuat larutan NaOH dengan cara ditimbang seksama 600 mg lalu ditambahkan aquadest sebanyak 15 ml kemudian dihomogenkan sampai larut.
  5. Ke dalam larutan CaCl2 ditambahkan larutan NaOH yang telah dibuat dan ditambahkan 1 mg EBT.
  6. Dititrasi secara perlahan-lahan dengan menggunakan titran Natrium EDTA, titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari merah ungu menjadi biru.
  7. Titrasi dihentikan kemudian dicatat volume titran yang digunakan kemudian dihitung persen kadarnya.



BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1 Data Pengamatan
No.
Volume CaCl2
Volume Na-EDTA 0,05 M
Perubahan warna
1.
10 ml
2,5 ml
ungu larutan biru


BAB V
PEMBAHASAN

Titrasi kompleksometri adalah titrasi yang berdasarkan atas pembentukan kompleks yang larut dari reaksi komponen zat uji (logam) dengan titran (komplekson). Untuk penentuan ion-ion logam ini dengan pereaksi etilen diamin tetraasetat dinatrium, yang umumnya disebut EDTA dengan menggunakan indikator terhadap ion logam yang mempunyai sifat seperti halnya indikator pH pada titrasi asam basa/ dengan dasar pembentukan kompleks khelat yang digolongkan dalam golongan komplekson. Faktor-faktor seperti suhu, pelarut, ion lawannya atau zat-zat/ ion-ion pembentuk kompleks lainnya dapat mempengaruhi pembentukan kompleks khelat.
Prinsip dan dasar reaksi dalam penentuan ion-ion logam secara titrasi kompleksometri umumnya digunakan komplekson III (EDTA) sebagai zat pembentuk kompleks khelat, dimana EDTA bereaksi dengan ion-ion logam yang polivalent seperti Al , Bi , Ca dan Cu membentuk senyawa atau kompleks khelat yang stabil dan larut dalam air.
Ion kompleks adalah suatu senyawa bermuatan yang terbentuk oleh suatu ion sederhana dengan ion-ion lain atau molekul netral, pembentukan ion kompleks kooordinasi berlangsung bila ion pusat menerima elektron-elektron untuk mengisi orbital-orbital yang belum lengkap dengan penerimaan pasangan elektron fungsi oleh ion pusat. Garam kompleks adalah garam rangkap yang dalam larutannya memberikan ion-ion yang berbeda dengan ion-ion garam tunggal pembentuknya, dengan perkembangan ilmu kimia perhatian orang terhadap senyawa kompleks tidak hanya terbatas pada garam-garam saja, tetapi meluas pada persenyawaan-persenyawaan garam.
Pada percobaan ini sampel CaCl2 berbentuk larutan dipipet seksama sebanyak 100 ml, dalam tiap 10 ml mengandung CaCl2 50 mg. Sebelumnya diberi indikator EBT (Erichrome Black T) dan terjadi perubahan warna larutan dari putih menjadi merah ungu, yang terjadi karena ion Ca terikat pada EBT membentuk suatu kompleks. Lalu dititrasi dengan NaEDTA sampai terjadi perubahan warna larutan dari merah ungu menjadi biru yang terjadi karena pembentukan kompleks khelkat antara ion Ca dengan NaEDTA sehingga ketika ion Ca habis bereaksi dengan EDTA maka warnanya menjadi biru (warna EBT).
Pada percobaan ini sebelum dititrasi terlebih dahulu ditambahkan HCl kedalam larutan CaCl2, kemudian ditambahkan larutan NaOH. Penambahan HCl dan NaOH bertujuan untuk memperoleh pH tertentu yang tetap sehingga akan dihasilkan kompleks yang lebih stabil sehingga akan lebih memudahkan dalam pengamatan titik akhir titrasi Dari hasil percobaan diperoleh kadar CaCl2 adalah 102,237% , hal ini tidak sesuai dengan pustaka yang menyatakan tidak boleh lebih dari 102,0 %.
Faktor-faktor kesalahan yang mungkin menyebabkan perbedaan hasil tersebut adalah :
  • Sampel yang terlalu tua
  • Kurang teliti dalam penimbangan
  • Kesalahan dalam titrasi
  • Kurang teliti mengamati titik akhir titrasi
  • Titran yang sudah tidak bagus.

BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Persentase kemurnian CaCl2 adalah 102,237 % jadi tidak memenuhi syarat karena menurut pustaka tidak boleh lebih dari 102,0 %.
VI.2 Saran
Sebaiknya jumlah titran diperbanyak kemudian dibagikan dalam tiap kelompok sehingga dapat lebih memperlancar jalannya praktikum dan alat-alat dilengkapi.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Susanti,S., Wunas,Y., (1979), Analisis Kimia Farmasi Kuantitatif, Lembaga Penerbitan UNHAS, Makassar, (141-145)
  2. Harjadi, W., (1990), Ilmu Kimia Analitik Dasar, Gramedia, Jakarta, 234,245
  3. Roth,H, J., Blasche, G., (1985), Analisis Farmasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 257-260
  4. Day, R.A, Underwood, A,A,L., (1993) Analisa Kimia Kualitatif, edisi IV, PT Erlangga, Jakarta, 152
  5. Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depertemen Kesehatan RI, Jakarta, 87, 673, 1027
  6. Ditjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depertemen Kesehatan RI, Jakarta, 179, 278, 930